Karawang Hari ini.






KARAWANG HARI INI part I


Banyak yang mengaku cinta terhadap daerahnya, banyak yang berkata peduli terhadap daerahnya, banyak yang bilang membangun untuk daerahnya. Tapi itu semua hanya sebatas banyak yang bilang. Faktanya semua hanya sebatas fatamorgana dalam dialektika bahasa dalam obrolan – obrolan tiada karya.

Sebagai seorang yang dilahirkan dan dibesarkan bahkan hidup oleh tanah dan tatanan tradisi Karawang sepertinya dan bahkan seharusnya malu jika hanya berdiam diri atau sibuk memperkaya diri. Atau bahkan memang sudah seapatis itukah bagi mereka yang katanya “Orang Karawang”, dan masih menyandang status sebagai warga Karawang di Katu Tanda Penduduknya.

Karawang hari ini telah ditinggalkan oleh mereka – mereka yang mengaku dan hanya bisa mengaku bahkan lebih parahnya memanfaatkan demi kepentingan pribadi. Karawang hari ini sudah lebuh dan tergilas oleh tatanan sosial budaya yang menjauh dari identitasnya.

Bayangkan jika seseorang sudah tidak punya identitas, mengenali dirinya sendiri saja tidak tahu, apalagi hal – hal yang lain. Itulah yang saat ini terjadi di Karawang. Lalu kemana mereka yang berkoar – koar mengatasnamakan kepedulian terhadap Karawang.

Karawang hari ini, yang katanya sebagai penghasil upah buruh terbesar di Jawa Barat bahkan jika boleh mengklaim se-Indonesia tapi pengangguran masih di atas 10%.

Karawang hari ini, katanya sebagai lumbung padi nasional dan bisa mendistribusikan beras ribuan ton, tapi mengapa luas wilayah pertanian khususnya padi setiap tahunnya berkurang, bahkan tidak ada kata sejahtera dari seorang Petani. Dan paling parahnya adalah mengapa sangat sedikit yang bercita – cita menjadi Petani.

Karawang hari ini, mengapa para tokoh pemuda pada saat detik – detik Proklamasi Indonesia tidak membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke daerah lain, masih ada Bekasi, Bogor, Depok, Banten, dan lainnya yang masih berdekatan dengan Jakarta pada saat itu, dan kita bangga hingga menjadi monumen sejarah di Karawang, seorang penyair masyhur pada era 1945 Chairil Anwar pernah mendedikasikan Karawang dan Bekasi dalam sebuah bait – bait puisi hingga menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi mengapa tidak ada yang tahu salah satu tokoh pembuatan teks proklamasi adalah orang Karawang, mengapa tidak banyak para generasi muda yang tahu akan hal itu.

Karawang hari ini nyatanya hanya sebatas kue lapis yang diperjual belikan di pinggir jalan yang penuh debu polusi, untuk dikatakan sebagai makanan sehat pun masih harus melalui verifikasi yang intensif. Karawang hari ini sudah kehilangan identitasnya.

Megahnya Kerajaan Galuh Pakuan di rubah sebagai tempat dagang dan perumahan. Megahnya Kerajaan Tarumanegara sekarang hanya sebagai perumahan elit yang “raja”nya dipenjara karena sebuah kasus pelecehan terhadap agama (katanya). Apa lagi yang tersisa dan yang dapat kita banggakan untuk sebuah daerah yang mempunyai warisan maha dasyat yang disebut Karawang ini.

Bahkan sebagai kaum intelektual muda (mahasiswa) yang mempunyai akses informasi luas, tidak ada sama sekali bentuk karya nyata hanya sebatas plang tulisan nama kampung hasil dari Karya Nyata Kuliah (katanya). Sibuk berdinamika di Kampus tapi tidak kenal dengan Ketua RW di kampungnya sendiri miris. 

Karawang hari ini, sebatas tulisan dan opini yang mungkin akan hilang.
(bersambung)


-          Kominfo_KMIK_2017/2018 -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat footer tetap dibawah

Dimana Pemerintah Daerah Karawang